08.29.07

SI PANDIR YANG SUPER PEDE DAN SI PANDAI YANG SUPER MINDER

Posted in artikel, kesehatan, mind detox at 10:31 am by Administrator

Seringkali kita temui dimana seseorang demikian percaya diri untuk memesan bahan untuk jendela dirumahnya yang berukuran 5 x 3 m. Dengan lantang dan penuh percaya diri dia memesan 15 m bahan dengan lebar 1m.

Tentunya berakhir dengan bahan tidak mencukupi membuat tirai dengan tepat. Ini contoh si Pandir yang Super PEDE. 

Berbeda dengan ahli dekor yang apabila ditanya berapa jumlah bahan yang dibutuhkan? Maka seorang ahli akan kembali bertanya, bagaimana model yang diinginkan?

Kemudian diikuti dengan pernyataan, “Sebaiknya saya ukur terlebih dahulu untuk mendapat jumlah bahan yang tepat”.Ini contoh si Pandai yang terlihat Super Minder. 

Apa yang terjadi? Mengapa seorang ahli demikian tidak percaya diri untuk sekedar menebak jumlah bahan yang dibutuhkan? Mengapa seorang yang bukan ahli, begitu lantang menyebutkan jumlah bahan yang dibutuhkan? Mengapa demikian? 

Seorang yang ahli, bekerja dengan kerja otak berdasarkan “Ingatan Prosedural” yang berkoordinasi dengan “Ingatan Semantik” dimana keduanya terdapat pada lobus frontalis, cerebellum(otak kecil) dan basal ganglia.

Dimana sisi otak ini bekerja berdasarkan pemahaman teknis, yang diikuti oleh pelatihan berulang, sehingga menjadikan memory/ingatan jangka panjang.

Mengapa tidak percaya diri atau minder? Sebenarnya hal ini bukan karena minder/lack of confidence tetapi lebih disebabkan oleh pelatihan yang dilakukan berulang2 menyebabkan otak membutuhkan data lain untuk berkonsolidasi dan kemudian menentukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. 

Mengapa tidak ada dorongan emosi dalam menjawab pertanyaan? Emosi yang terlibat dalam penyimpanan memory adalah yang berkaitan dengan peristiwa yang berkaitan dengan ruang dan waktu, tersimpan dalam hypocampus berdekatan dengan amigdala yang menseleksi data/memory yang berkaitan dengan emosi. 

Pada seorang ahli, memory yang berkaitan dengan emosi tidak berhubungan dengan kerja otak yang berkemampuan teknis, alias tidak berhubungan sama sekali.

Jadi apabila kita temui seorang ahli yang emosional, perlu dipertanyakan sejauh mana keahliannya. 

Pada seorang yang bukan ahli, dalam memutuskan lebih disebabkan oleh kebutuhannya yang berkaitan dengan emosi, misalnya tidak sabar agar jendela atau rumahnya terlihat cantik, atau agar kebutuhannya terpenuhi sesuai dana/budget.  

Dimana kerja otak ini berada sebelah kiri, dan apabila ditelusuri kerja otak ini terkait dengan pesan suami/istri/orangtua pada hari sebelumnya, dimana pesan yang diterima hari itu pagi hari melalui telepon mengatakan “belanja sesuai budget”. 

Jadi kebutuhan akan data teknis sama sekali tidak dapat diatasi dengan hasil olahan kerja otak yang melibatkan emosi.

Yang dibutuhkan adalah kerja otak yang memahami teknis perhitungan, dimana emosi sama sekali tidak terlibat. 

Dalam kehidupan sehari2 sering terjadi distorsi dalam komunikasi, karena tanpa disadari masyarakat tidak memahami arti dari kerja otak. 

Nah mari kita berbagi informasi, TERNYATA distorsi antar ibu dan anak, atau suami dan istri, atau bos dan karyawan sebaiknya menyadari isi dari komunikasi, dan apa data yang dibutuhkan. 

Dengan kata lain yang lebih mudah, pisahkan antara kebutuhan akan informasi yang bersifat teknis dan yang berkaitan dengan emosi. 

Karena tergesa-gesa dalam memutuskan atau dalam bekerja adalah hal yang tidak bijaksana dan memicu terjadi kelinglungan (absentmindedness). 

Saya menanamkan motto “ Pecahkan masalah dengan data”, terkesan matematis dan sok pintar. Tapi hal ini memang menjadikan kita jauh lebih pandai daripada si Pandir yang bersuara lantang. 

Hj. Atty S, CH & Nasehat Dokter2 Harvard Medical School

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.