07.09.07
Penyakit Jiwa Menular?
Setelah meneliti lebih dari 7thn terhadap penyakit ini, khususnya bagi keluarga yang tidak mengakui atau menolak kenyataan bahwa ada anggota keluarganya yang mengidap penyakit kelainan prilaku.
Tanpa disadari keluarga akan menerima asosiasi keliru dari penderita secara terus menerus dan berulang2 selama bertahun-2 ketahanan mental maupun intelektual anggota keluarga yang sehat pun terganggu. Nilai2 atas kehidupan dan bermasyarakat-pun bergeser.
Apalagi si penderita yang tidak di konsultasikan ini hidup hanya berdua dengan suami/istri/saudara/anak, setidaknya anggota keluarga yg sehat juga berprilaku atau setidaknya perpola pikir bahkan bertutur-kata mirip dengan penderita. Alias ketularan sarap/gila (Dalam kedokteran maupun dlm dunia psikology jenis2 kelainan prilaku berpuluh2 jenis. Dari ringan hingga kelas berat)
Jadi penting bagi keluarga mengakui bahwa ada anggota keluarga yang “sakit” dan perlu dibantu. Baik oleh tenaga medis maupun psikolog. Mahal? Kenapa hal ini selalu jadi issue ya..?
Bagaimana kalau kita tinjau dari sudut, berapa banyak kerugian kita, apabila penderita membuat masalah di toko/supermarket atau di sekolah? Nah, kita yg pembela mati2an dari penderita, tentu kena batunya. Mengganti kerugian, atau dilaporkan berkomplot dengan penderita. Krn bukti dan saksi tindak pidana jelas, maka kasus pidana dapat dilanjutkan. Belum lagi kasus sosial, penderita mengadu pada keluarga bahwa dia dianiaya oleh tetangga. Padahal ini hanya ada dalam pikiran penderita, berapa banyak kerugian dalam menderita malu akibat hal ini? Atau si penderita merasa di fitnah dll, tentu sebagai keluarga kita membela mati2an, akhirnya kita ikut2an membenci sosok yang memfitnah, tanpa bisa mencari bukti keabsahannya. Krn kalau kita “Berani” mencari fakta, berarti kita mulai mengakui kondisi si penderita. Siapkah anda? Harus siap dong….
Kalau kita sayang/cinta pada penderita, kitalah yang maju menuju klinik dokter/psikolog. Bukan penderita! Apabila kondisi tertentu, psikiater akan memberi obat depresan berupa obat tetes, jadi penderita tidak mengetahui bahwa dirinya dalam pengobatan. Akan jelas terlihat bagaimana penderita menjadi manusia biasa, bukan manusia “super benci”, “super dengki” atau “super-takut” dllsbgnya.
Nah…, kapan anda siap demi keluarga tercinta? dan demi diri anda sendiri?
Selamat berjuang… melawan ego adalah jalan menuju perbaikan.
Redaksi Dewa Dewi said,
July 9, 2007 at 6:19 am
Saya seneng baca blog ini. Artikelnya menarik dan informatif. Salam kenal !
attyrumahlima said,
July 10, 2007 at 8:17 am
Terima kasih, saya juga sudah berkunjung pada blog Majalah Dewa Dewi, menarik dan banyak variasi info nya. Mudah2an kita bisa berbagi manfaat ya. Salam kenal juga…!